Selasa, 20 Mei 2014

Yamabushi Karate dojo Sumbagsel

Latihan Bersama dan Ujian kyu YKD Sumbagsel
Palembang 15 - 18 Mei 2014
para peserta Latihan Bersama hari pertama di Palembang...

senpai Ucok Gultom, Yamabushi no Kancho, sensei Sutrisno (embah) dan dokter Harun

contoh aplikasi kihon dalam perkelahian 

latihan bersama dan ujian IAIJUTSU Yamabushi Palembang





Sabtu, 28 Desember 2013

Yamabushi Kembali Mencoba Menoreh Prestasi

di penghujung tahun 2013 ini , tepatnya 22 Desember 2013 kembali atlit2 kadet dan pemula Yamabushi mencoba menoreh prestasi mereka di kejuaraan SWEJA IKC 2 yang di selenggarakan di Bandung. Dari 5 orang atlit yang berangkat pada kejuaraan tersebut kontingen Yamabushi berhasil membawa pulang 1 medali emas dari nomor KATA perorangan putri pemula oleh Hanny Ardelia, dan 1 medali perunggu dari nomor kumite perorangan putra pemula +40kg oleh Mi'rojul Umam.






























Kamis, 05 Desember 2013

Yamabushi dojo di Ponpes Modern Al Ghozali, Bogor

Setelah beberapa tahun berkiprah di dunia karate di tanah air, akhir tahun 2013 ini Yamabushi Karate Dojo mulai merambah masuk di dunia pesantren. Mengawali tahun baru Hijriah 1435 H, tim Yamabushi UIN Syahid melakukan demo dan perform di hadapan sekitar 500 santri Ponpes Al Ghozali Bogor yang mendapat tanggapan cukup antusias. Kegiatan ini berlanjut dengan work shop pengenalan yamabushi dojo sebagai persiapan pelaksanaan latihan rutin yang akan di mulai bulan Januari 2014

Senin, 17 Juni 2013

seminar training bersama shunichiro koyanagi sensei (DAN 6)


Kontingen Yamabushi bersama Koyanagi Sensei
team Yamabushi UIN Syahid bersama Koyanagi Sensei dan Yamabushi No Kancho



Yamabushi No Kancho & Takiotoshi No Kancho

memperhatikan pengarahan dari koyanagi Sensei
team NARSIS Yamabushi dojo
Shunichiro Koyanagi Sensei (DAN 6)
dari Kobayashi Dojo Jepang


Sabtu, 11 Mei 2013

Tujuan dan Manfaat Berlatih Karate untuk Anak-anak



Saat ini banyak kegiatan ekstra-kurikuler di sekolah yang melibatkan anak-anak dalam kegiatan olahraga, salah satu yang paling populer adalah Karate. Sebelum para orangtua melibatkan anak-anak mereka dalam kegiatan berlatih Karate, sebaiknya harus dipahami sejauh mana fungsi dan tujuan berlatih Karate bagi anak-anak.

Menurut para ahli kesehatan, tidak dianjurkan anak-anak di bawah usia delapan tahun untuk terlibat dalam olahraga yang melibatkan kontak fisik dan benturan yang keras. Karena itu, pola latihan Karate di Yamabushi Karate Dojo dibedakan untuk usia anak-anak dan dewasa. Hal ini mengacu pula pada tujuan dan fungsi pelatihan Karate khususnya untuk anak-anak, yaitu untuk menumbuhkan motivasi yang berhubungan dengan sisi kognitif, afektif, serta psikomotorik, di antaranya yaitu menanamkan sikap disiplin, rasa hormat, pengendalian diri, dan melatih fokus.

Jadi, tidak serta merta latihan Karate untuk anak-anak itu harus keras, ekstrem, dan melibatkan benturan-benturan yang berbahaya. Porsi latihan harus disesuaikan dengan tingkat kematangan murid, baik secara fisik maupun psikis. Dengan metode dan pola latihan yang benar, diharapkan tujuan berlatih Karate selain melatih kemampuan beladiri juga bisa berhasil meningkatkan prestasi anak-anak, baik prestasi akademik di sekolah maupun prestasi moral dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Perlu dipahami bahwa berlatih Karate tidak hanya sebatas aktivitas fisik dengan cara memukul, menendang, dan berteriak. Karena itu, salah besar jika orangtua melibatkan anak-anak mereka dalam kegiatan Karate hanya supaya anaknya menjadi hebat berkelahi atau menjadi juara di berbagai ajang pertandingan. Aspek fisik karate memang memiliki dampak positif pada pertumbuhan jasmani, tapi lebih dari itu pelatihan Karate juga memiliki pengaruh pada pikiran anak-anak. Karate mengajarkan anak-anak bagaimana untuk mendengarkan, belajar, bersosialisasi, serta menang dan kalah secara bermartabat. Banyak manfaat dan aspek positif yang akan didapat anak-anak dengan berlatih Karate. Namun semua itu tentunya sangat tergantung bagaimana para orangtua memilih dojo dan instruktur Karate yang tepat untuk anak-anak.

Jumat, 26 April 2013

Sebuah Filosofi....

Adalah sangat tidak mungkin bahwa anda akan menggunakan  hakama anda, menggantungkan katana anda disisi pinggang anda, dan berjalan-jalan di jalanan bersiap-siap untuk menggunakan ketrampilan iaijutsu anda untuk membela diri atau membela orang yang tertindas seperti di zaman para samurai dulu. Lalu apa manfaat latihan iaijutsu?
Kenyataan bahwa anda tidak akan mungkin pernah terlibat dalam suatu pertempuran pedang yang sebenarnya, secara bertentangan, adalah merupakan manfaat terbesar dari latihan pedang! Mereka yang berlatih seni beladiri yang mempunyai aplikasi praktis modern, seperti karate-do atau judo, terlalu sering menjumpai diri mereka sendiri terlibat dalam ketrampilan untuk mengembangkan aplikasi beladiri fisik dari seni bela diri mereka sehingga mereka melewatkan atau memandang sepele pelatihan mental dan spirit mereka.
Secara alami, sebagai seni beladiri yang sangat di ritualkan, yang memiliki langkah yang sedang, dan tanpa aplikasi “jalanan” secara nyata, iaijutsu memberikan suatu lingkungan yang ideal untuk memperbaiki disiplin mental dan spiritual. Semua seni beladiri seharusnya mengembangkan kualitas-kualitas ini, namun sedikit sekali yang menekankan kualitas-kualitas tersebut di dalam praktek di zaman modern ini.
Hal ini bukan berarti bahwa iaijutsu itu tidak praktis atau tidak bermanfaat - samasekali tidak! Iaijutsu mengembangkan kualitas-kualitas yang bukan hanya bermanfaat untuk bela diri, jika diperlukan, tetapi juga meningkatkan pengalaman kehidupan sehari-hari seseorang. Untuk alasan inilah di dalam seni beladiri yang tampaknya “tidak praktis” ini adalah jauh lebih praktis dibandingkan mempelajari teknik-teknik “perkelahian-jalanan” untuk seseorang kecuali preman.


Budo no Arikata / Tujuan Seni Beladiri
Untuk memahami fungsi pelatihan seni beladiri, kita hanya perlu memahami tujuan seni beladiri tersebut: untuk menang!
Sederhana sekali.
Secara bersamaan, hal tersebut ternyata jauh lebih rumit. Secara nyata, kita mempelajari suatu seni beladiri adalah untuk menang dalam suatu pertempuran. Kita pasti tidak akan menghabiskan waktu bertahun-tahun latihan hanya untuk di kalahkan! Walaupun demikian, pelatihan seni beladiri melibatkan hal-hal yang jauh lebih banyak daripada hanya belajar bagaimana melukai atau membunuh orang lain dalam pertempuran.
Suatu legenda Jepang berabad-abad yang lalu, menceritakan ada dua samurai yang hubungannya lebih dekat dibandingkan saudara sendiri. Ketika mereka berdua sudah dewasa dan bersiap-siap untuk melakukan musha shugyo mereka – perjalanan yang biasa dilakukan oleh samurai untuk menyempurnakan keahlian mereka – jelas kelihatan bahwa jalur yang mereka ambil akan memisahkan mereka untuk beberapa tahun. Maka, sebelum berangkat mereka berjumpa di suatu aliran sungai kecil yang tenang dan berjanji untuk bertemu lagi di tempat yang sama duabelas tahun lagi untuk membagi cerita tentang latihan dan pengalaman mereka. Sesuai dengan janji mereka, mereka kembali ke pinggiran sungai tepat pada hari yang di janjikan duabelas tahun kemudian, tetapi mereka menemukan bahwa hujan akhir-akhir ini telah membuat arus sungai yang kecil menjadi aliran yang sangat deras, menghalangi jalan mereka ke tempat yang sama di pertemuan terakhir mereka.
Bertekad untuk berbuat sesuai dengan isi surat dan spirit sumpahnya, dan untuk mempertunjukkan ketrampilannya yang luar biasa yang telah di kuasainya selama berpisah dua belas tahun, seorang samurai berlari ke sungai dan melakukan suatu lompatan yang spektakuler yang berhasil membawa nya menyeberangi aliran sungai yang mematikan itu ke sisi lain yang aman. Lompatan tersebut melebihi record Olympic saat ini, dan pastilah akan membuat kagum teman nya. Sebagai gantinya, samurai yang lainnya dengan santai berjalan beberapa langkah ke hulu dan menyewa seorang tukang perahu untuk menyeberangkan dia ke seberang dengan hanya membayar 5 mon (kalau zaman sekarang kemungkinan sekitar Rp. 1.000,- untuk jasa menyeberangi sungai).
Ketrampilan yang mana seseorang harus menghabiskan waktu nya seumur hidup dengan pengorbanan dan pengabdian agar bisa menguasainya, bisa ditiru dengan tanpa susah payah dengan hanya membayar beberapa rupiah saja. Sama halnya, apabila tujuan kita melulu hanya untuk membunuh orang, kita dapat dengan mudah membeli sebuah pistol, daripada harus menginvestasikan waktu kita bertahun-tahun dalam pelatihan. Maka, pelajaran pertama iaijutsu adalah, membuat diri kalian sendiri yakin bahwa latihan yang akan kalian tempuh akan mendatangkan manfaat.
Berikutnya, kita harus menyadari bahwa “menang” adalah bukan selalu mengalahkan seorang lawan; tetapi menyempurnakan diri anda sendiri – karakter pribadi anda, juga keahlian anda – kepada tingkat yang mana seorang lawan tidak akan mampu melawan anda. Sekalipun begitu, menang adalah masih lebih dari pada ini.
Di dalam iaijutsu, ada pepatah yang mengatakan: “kachi wa saya no naka ni ari” (“Kemenangan datang saat pedang masih di dalam sarung nya”). Ketrampilan fisik saja, tak peduli bagaimana sempurnanya, tidaklah cukup. Selalu akan ada seseorang yang lebih ahli, atau seseorang dengan suatu muslihat kotor yang mana tidak anda perhitungkan. Tetapi sikap adalah lebih penting daripada ketangkasan di dalam pertempuran yang sebenarnya. Kita semua tahu mengenai pertempuran antara David dan Goliath, di mana pihak yang tidak diunggulkan mengalahkan seorang lawan yang jauh lebih kuat melalu kebulatan tekad dan kepercayaan yang tulus.
Tanpa adanya keberanian atau kebulatan tekad untuk menggunakan suatu keahlian, keahlian yang sangat tinggi akan menjadi sia-sia. Akan sama halnya seperti melukis suatu karya agung (masterpiece), kemudian menyimpan nya di mana tak seorangpun yang dapat melihat nya. Ini bukan hanya suatu pemborosan waktu, bakat dan usaha, tetapi hilangnya sesuatu yang berharga bagi umat manusia.
Maka, tujuan iaijutsu yang lebih tinggi adalah untuk mengembangkan pikiran dan spirit seorang warrior (samurai), yaitu suatu sikap dan kekuatan karakter yang akan memenangkan pertempuran bahkan sebelum pertempuran itu dimulai. Ini adalah bukan suatu hal yang sederhana untuk dicapai. Ini membutuhkan waktu bertahun-tahun latihan sehari-hari untuk memperkuat sifat-sifat ini dan untuk membersihkan diri sendiri dari reaksi dan sikap, seperti kemarahan, ketakutan, egois, kecemburuan, dan benci, yang sangat counter-produktif (tidak produktif) atau self-destruktif (merusak diri sendiri).
Lebih jauh lagi, menang haruslah di capai tanpa berusaha untuk menang! Sekali lagi, konsep ini pada mulanya tampak berlawanan. Bagaimana mungkin anda bisa menang jika anda bahkan tidak berusaha untuk menang? Jawabannya adalah bahwa kunci untuk memenangkan suatu pertempuran adalah kebulatan tekad yang kuat untuk tidak kalah.
Ini lebih dari sekedar suatu perbedaan semantik; ini membutuhkan suatu pergeseran fokus dan komitmen yang mendalam. Apabila anda berusaha untuk menang, anda akan cenderung untuk mengambil resiko yang tak perlu dalam kebulatan tekad anda untuk mengalahkan lawan anda. Tetapi apabila sebaliknya anda bertekad untuk tidak kalah dalam pertempuran, anda mempunyai keuntungan dalam menanti lawan anda untuk melakukan kesalahan sehingga anda kemudian bisa memanfaatkan nya untuk mencapai kemenangan.
Bagaimanapun juga, latihan iaijutsu masih menuntut suatu tujuan yang lebih tinggi dan lebih mulia dari pada hanya masalah menang (atau kalah) dalam pertempuran. Ahli Siasat Cina yang hebat Sun Tzu berkata bahwa prinsip paling tinggi dalam Seni Perang adalah untuk memenangkan suatu pertempuran tanpa bertempur. Ini adalah cita-cita iaijutsu yang sesungguhnya, sebagaimana diwujudkan dalam huruf kanji Cina untuk “seni beladiri” (“martial arts”): Bu-Jutsu, lambang kanji yang kita terjemahkan sebagai “beladiri” (“ bu” seperti di dalam bujutsu/budo) dibentuk dari dua karakter kanji: “tomeru” (mencegah) dan “hoko” ( konflik)
Oleh karena itu, terminologi “seni beladiri”, sejak dari waktu yang paling awal, sungguh-sungguh telah berarti “Seni Mencegah Konflik.” Cara pelatihan Iaijutsu untuk memenuhi cita-cita ini hanya dapat ditemukan dengan memahami cita-cita dasar seni beladiri.